Tak lama kemudian, ia kembali memohon dengan penuh harap, "Doakan semoga perjalanan kami aman-aman, tidak ada bahaya," pungkasnya.
Doa itu terasa begitu tulus dan menyentuh.
Ia sadar bahwa keselamatan adalah hal paling berharga di tengah kondisi tak menentu.
Kisah ini menjadi pengingat betapa sulitnya distribusi bantuan di wilayah pascabencana.
Satu paket sembako harus ditebus dengan perjalanan kaki berjam-jam dan doa tanpa henti.
Baca Juga: Yuk Kenali Lokasi Sebaran 56 Pasar Tumpah di Pulau Jawa Jelang Libur Nataru 2025
Kisah ibu dari Tapanuli Tengah ini bukan sekadar cerita viral, tapi potret nyata perjuangan warga di wilayah terdampak bencana.
Di balik sekantong sembako, ada langkah panjang, keringat, dan doa yang tak terhitung.
Semoga cerita ini membuka mata banyak pihak bahwa bantuan bukan hanya soal memberi, tapi juga memastikan bisa dijangkau dengan aman.***