Di tengah bencana yang menyisakan duka dan kehilangan, kisah bocah kecil di pengungsian Aceh ini menjadi secercah cahaya.
Ia menunjukkan bahwa ketulusan tidak mengenal situasi, usia, maupun keterbatasan.
Dari permintaan sederhana itu, lahir pelajaran besar tentang empati dan cinta keluarga.
Mungkin banjir telah merenggut banyak hal, tetapi tidak dengan nilai kemanusiaan.
Justru di saat-saat seperti inilah, hati manusia berbicara paling jujur.
Kisah ini akan terus menghangatkan, jauh setelah air surut.***