Salah satu strategi utamanya adalah menghadirkan gerai sembako dengan harga grosir, bahkan lebih murah dari pasar besar pada umumnya.
“HPP-nya lebih murah dari grosir,” jelas Imam, menunjukkan betapa koperasi ini punya kekuatan negosiasi dan rantai pasok yang efisien.
Tidak berhenti di situ, koperasi menggandeng BTN untuk memberikan cashback hingga 30 persen bagi transaksi minimal Rp25 ribu melalui QRIS, autodebet, atau EDC.
Ada juga promo dari BNI yang menghadirkan diskon sampai 50 persen untuk pembayaran digital.
Strategi ini membuat gerai koperasi langsung menjadi pusat belanja pilihan warga karena harganya kompetitif dan promosinya sangat menarik.
Dengan insentif sebesar itu, warga merasakan manfaat ekonomi yang konkret, bukan sekadar jargon koperasi.
Sistem Simpan Pinjam Berbasis Voucher untuk Memutar Ekonomi Anggota
Selain gerai sembako, KKMP Tukangkayu juga menawarkan inovasi dalam sistem simpan pinjam berbasis voucher belanja.
Sistem ini memungkinkan anggota meminjam dana tetapi mengembalikannya dalam bentuk transaksi di koperasi, sehingga perputaran uang kembali ke lingkungan kelurahan.
Model seperti ini menahan kebocoran ekonomi agar tidak lari ke luar wilayah.
Selain memberi manfaat bagi anggota, strategi ini juga memperkuat posisi koperasi sebagai penyedia kebutuhan pokok.
Baca Juga: Biaya Pemilu yang Membengkak hingga Debat Legitimasi, 7 Sorotan Panas dari Wacana Pilkada via DPRD
Ini menjadi cara elegan untuk menjaga keseimbangan antara fungsi sosial dan fungsi bisnis.
Anggota koperasi merasakan keuntungan ganda akses pembiayaan sekaligus efisiensi belanja.