KLIK SAJA - Begitu banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, BRI langsung mengaktifkan protokol Business Continuity Management (BCM).
Protokol ini ibarat tombol darurat yang memastikan layanan tetap berjalan meski kondisi lapangan berantakan.
BCM bukan sekadar SOP menempel di dinding kantor, tapi sistem hidup yang dipraktikkan dari pemantauan risiko, pemetaan jaringan, hingga menjalankan rencana cadangan.
Saat akses jalan putus, listrik terhenti, dan jaringan seluler tumbang, BCM memastikan masyarakat tetap punya ruang untuk mengakses layanan.
Baca Juga: Kayu Gelondongan Melintas Setelah Bencana? Titiek Soeharto: ‘Saya Sedih, Miris, dan Marah’
Dalam situasi seperti ini, BCM bukan hanya soal kelangsungan bank namun tentang menjaga denyut ekonomi warga tetap bergerak.
BRIsat Jadi ‘Jembatan Langit’ Ketika Jaringan Terestrial Terputus
Di banyak titik, kabel fiber optik putus dan jaringan seluler lumpuh total.
Tapi tidak dengan BRI. Berbekal BRIsat, satu-satunya satelit milik institusi keuangan di Indonesia, layanan di kantor-kantor cabang tetap bisa beroperasi.
Melalui jembatan komunikasi dari angkasa ini, kantor cabang tetap terhubung dengan kantor wilayah dan pusat tanpa hambatan berarti.
Koneksi satelit ini memungkinkan proses transaksi, penarikan tunai, pencatatan data, hingga pengiriman update kondisi lapangan tetap berjalan.
Baca Juga: Firman Soebagyo hingga Puan, Bantuan Bencana Jangan Jadi Ajang Pencitraan
Di tengah chaos bencana, BRIsat tampil sebagai infrastruktur yang membuktikan bahwa inovasi tidak berhenti hanya pada teknologi digital biasa tapi juga kesiapan menghadapi skenario terburuk.
Bukti Lapangan Bahwa Satelit Bukan Sekadar Gimmick