“Tahu-tahu kepala sekolahnya agak grogi karena yang diberhentikan itu anak jenderal,” lanjutnya.
Cerita itu menggambarkan bagaimana aturan sekolah kadang goyah hanya karena status sosial.
Namun bagi Prabowo, tindakan tegas tetap harus berdiri di atas kebenaran, bukan jabatan orang tua.
Kepala Sekolah Diminta Tetap Tegas, Sekalipun Dihantui Tekanan
Prabowo melanjutkan kisah itu dengan momen yang lebih menarik. Kepala sekolah yang ragu-ragu lalu meneleponnya untuk meminta arahan.
Baca Juga: Dari Perahu Karet sampai Ribuan Makanan Siap Saji, Aksi Cepat BRI Peduli untuk Warga Sumatera
Jawaban Prabowo justru lebih tegas dari yang diduga.
“Kepala sekolahnya telepon saya. Saya bilang, ‘Enggak usah ragu-ragu. Mana jenderal itu? Suruh menghadap saya’. Aku tunggu-tunggu enggak datang-datang juga itu,” ujarnya.
Cerita itu menegaskan bahwa disiplin harus ditegakkan tanpa pandang bulu.
Mesin pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena ancaman atau status orang tua.
Prabowo seolah ingin menegaskan kalau sekolah sudah benar, maka negara akan berdiri di belakangnya.
Disiplin Harus Berjalan Tanpa Takut Siapa Pun
Melalui kisah tersebut, Prabowo ingin menunjukkan bahwa ketegasan bukan hanya milik guru, tapi juga kepala sekolah.
Tanpa keberanian, pendidikan karakter hanya akan jadi slogan. Ia menegaskan bahwa tekanan orang tua, jabatan, atau pangkat tidak boleh jadi alasan untuk melunak.