Fundamental Lemah
Anthony menekankan bahwa isu riil rupiah bukanlah nominal angka, melainkan fondasi ekonomi yang belum kokoh.
Ia menyebut kondisi transaksi berjalan yang terus defisit sejak 2012 sebagai biang kerok.
“Terutama kita transaksi berjalan itu tersedot keluar, itu defisit.” ujarnya.
Dengan fundamental ekonomi yang tidak diperbaiki, rupiah akan mudah kembali terperosok meski tampil dengan angka baru.
Baca Juga: BRI Gaspol Diversifikasi Dari Payroll, KPR Tier-1, hingga Layanan Bank Emas Lewat Super App Tring
Anthony juga mengingatkan risiko kenaikan harga yang tidak tercermin dalam IHK, sehingga dampaknya terasa tapi tak terlihat.
“Kemudian akan terjadi pembulatan-pembulatan.”
Hal yang ia khawatirkan justru menghantam masyarakat kelas menengah bawah.
Bahkan ia menyinggung potensi kenaikan tingkat kemiskinan jika kebijakan ini dipaksakan.
Harga Bisa Naik Diam-Diam, Daya Beli Menurun Pelan-Pelan
Menurut Anthony, redenominasi cenderung menciptakan ilusi stabilitas harga padahal efek riilnya bisa sangat berbeda.
“Tidak semua harga yang naik itu masuk hitungan sebagai IHK.” jelasnya.
Baca Juga: Di Tengah Erupsi Semeru, Warga Bertahan, Anak-anak Bersiap Sekolah dan Jarak Aman Semakin Ketat
Pembulatan harga setelah nominal dipangkas tiga angka bisa membuat belanja sehari-hari perlahan lebih mahal tanpa sadar.
Efek psikologis juga tidak bisa diremehkan: masyarakat bisa merasa harga “lebih murah” padahal nilainya sama saja.