Ketimpangan yang dibiarkan akhirnya menciptakan jurang psikologis antar-sivitas akademika.
Ketika pekerja ilmu merasa tak diperlakukan adil, wajar kalau kualitas pendidikan ikut terguncang.
Beban Mengajar 60 SKS: Kampus Jadi Pabrik Kelas, Bukan Rumah Ilmu
ADAKSI juga menyoroti praktik PTN BLU/BH yang menerima mahasiswa dalam jumlah besar demi mengejar pendapatan.
Akibatnya, dosen-dosen harus mengajar hingga 60 SKS lebih dari 20 kelas per semester.
Ini bukan hanya tidak manusiawi, tapi juga memotong habis ruang untuk riset, waktu keluarga, hingga kesehatan mental.
Para dosen menggambarkan bagaimana tekanan ini merusak kualitas pengajaran dan membuat proses belajar menjadi sekadar rutinitas tanpa jiwa.
Kampus akhirnya terasa seperti pabrik kelas, bukan tempat tumbuhnya pemikiran kritis.
Lebih jauh, ekspansi berlebihan ini ikut memukul banyak PTS kecil yang kehilangan mahasiswa. Ekosistem pendidikan tinggi pun makin timpang dan rapuh.
Tunjangan Fungsional “Macet” 18 Tahun: Stagnansi yang Jadi Anomali
Isu ketiga bukan baru—tapi tetap menyentak, tunjangan fungsional dosen tak pernah naik sejak 2007.
Baca Juga: Operasi Modifikasi Cuaca hingga 700 Personel, Begini Beratnya Pencarian Korban Longsor Banjarnegara!
Artinya, selama hampir dua dekade, angka itu tetap membeku. Di tengah profesi lain seperti peneliti yang sudah mendapatkan penyesuaian, kondisi dosen terasa makin tertinggal.
Padahal merekalah ujung tombak dalam menyiapkan SDM unggul yang menjadi fondasi pembangunan bangsa.