KLIK SAJA - Banyak orang mengira MBG hanya soal memberi makan anak sekolah, tetapi kenyataannya efeknya jauh lebih luas.
Program ini menciptakan permintaan baru yang stabil bagi UMKM pangan, terutama tempe yang menjadi salah satu sumber protein favorit.
Di balik setiap piring yang disajikan untuk murid-murid, ada satu ekosistem usaha kecil yang hidup kembali.
Ini bukan hanya program sosial ini metamorfosis perlahan dari UMKM sebagai “pelengkap industri” menjadi tulang punggung produksi pangan nasional.
Baca Juga: Prabowo Bicara Terus Terang soal MBG dari 44 Juta Penerima hingga Target Nol Penyimpangan
Tempe Indonesia Mulai Mendunia
Cucup Ruhiat, Direktur PT Azaki Food Internasional, adalah salah satu contoh bagaimana UMKM bisa tumbuh ketika permintaan dalam negeri dan luar negeri berjalan bersamaan.
Tempe buatannya sudah masuk ke 12 negara Asia dan Eropa. Tetapi yang mengejutkan ratusan dapur MBG di 15 kota kini juga menjadi pelanggan tetap.
Permintaan lokal yang stabil membuat kapasitas produksi meningkat dan itu menciptakan efek domino bagi petani, pengrajin, dan tenaga kerja lokal.
Satu Rumah Produksi Bisa Menyokong 5–15 Dapur MBG
Bayangkan satu rumah produksi tempe yang biasanya hanya memasok pasar tradisional, kini tiba-tiba menjadi pemasok bagi belasan dapur besar.
“Satu rumah produksi kami bisa menyuplai lima hingga 15 dapur MBG,” kata Cucup.
Jika dikalikan ratusan dapur di seluruh kota, terlihat jelas betapa besar ruang tumbuh bagi UMKM.