nasional

Modifikasi Cuaca Hingga Koordinasi Gubernur, Pencarian Korban Longsor Cilacap Tetap Dilakukan

Senin, 17 November 2025 | 03:44 WIB
Modifikasi Cuaca Hingga Koordinasi Gubernur, Pencarian Korban Longsor Cilacap Tetap Dilakukan (Menyoroti fakta terkini proses evakuasi korban bencana longsor di Majenang, Cilacap, pada Minggu, 16 November 2025. (Dok. Pemprov Jateng))

BMKG menjelaskan curah hujan tinggi beberapa hari sebelum longsor membuat lereng semakin basah dan rentan bergerak.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menuturkan, “Rangkaian hujan membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan.”

Pos Hujan Majenang mencatat curah hujan mencapai 98,4 mm dan 68 mm per hari pada 10–11 November.

Fenomena atmosfer seperti MJO dan pusaran angin di perairan barat Lampung hingga selatan Bali juga memperkuat pembentukan awan hujan.

Baca Juga: Momen Hangat Prabowo dan Raja Abdullah II Saat Saksikan Aksi Drone Kontraterorisme di Jakarta

Guswanto menambahkan, “Kondisi atmosfer tersebut mendorong terbentuknya awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan sedang hingga lebat disertai kilat atau petir serta angin kencang.”

Penjelasan ini menunjukkan bahwa longsor bukan hanya soal tanah, tapi juga interaksi kompleks antara hujan, atmosfer, dan medan.

Tantangan dan Harapan di Tengah Bencana

Hujan yang terus mengguyur dan medan yang licin menantang tim SAR setiap harinya.

Meski begitu, keberhasilan menemukan korban memberi sedikit lega bagi keluarga yang menunggu kabar.

Strategi baru dan teknologi modifikasi cuaca menunjukkan upaya serius untuk mempercepat evakuasi.

Baca Juga: Momen Hangat Prabowo dan Raja Abdullah II Saat Saksikan Aksi Drone Kontraterorisme di Jakarta

Koordinasi antarinstansi dan kesigapan tim SAR menjadi penentu keberhasilan operasi.

Warga di sekitar lokasi diimbau tetap berada di tempat aman hingga situasi benar-benar stabil.

Di tengah kesulitan, bencana ini juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dan solidaritas masyarakat.***

Halaman:

Tags

Terkini