nasional

Adat, Politik, dan Sejarah yang Mengulang Diri: Rumitnya Suksesi PB XIII di Kraton Surakarta

Minggu, 16 November 2025 | 07:32 WIB
Adat, Politik, dan Sejarah yang Mengulang Diri: Rumitnya Suksesi PB XIII di Kraton Surakarta (Dua sosok penerus tradisi berdiri di tengah pusaran polemik. Busana agung tetap melekat, namun perjalanan menuju takhta selalu penuh ujian / Dok.istimewa)

KLIK SAJA - Konflik di Kraton Surakarta kembali pecah, seolah sejarah kelam itu menolak benar-benar pergi.

Setelah wafatnya SISKS Pakubuwono XIII pada 2 November lalu, dua putranya Gusti Purbaya dan KGPH Hangabehi sama-sama mengklaim sebagai penerus takhta.

Situasi makin rumit karena pengangkatan dilakukan dalam dua momentum berbeda, satu di hadapan jenazah PB XIII, satu lagi dalam pertemuan keluarga besar.

Alih-alih mufakat, forum keluarga berubah menjadi arena penetapan mendadak.

Baca Juga: Penyidikan, Empati, dan Pertanyaan Publik: Perkembangan Terbaru Kasus MH di Tangsel

Ketegangan memuncak ketika GKR Timoer Rumbay masuk sambil memprotes penobatan Hangabehi.

Konflik internal pun meruncing, menambah daftar panjang dinamika yang terus menghantui kraton berusia 281 tahun itu.

Jejak Silsilah yang Berlapis dan Versi Berbeda soal Keabsahan

Silsilah PB XIII memuat tiga istri dan tujuh anak, sebuah struktur keluarga yang memang rawan tafsir dalam urusan suksesi.

KGPH Hangabehi adalah putra tertua dari istri kedua, sementara KGPAA Hamangkunegoro adalah putra bungsu dari istri ketiga yang kini bergelar permaisuri.

Rumitnya, pengangkatan permaisuri GKR Paku Buwono empat tahun lalu sempat dipersoalkan Lembaga Dewan Adat (LDA).

Baca Juga: Kasus Petral Bangkit Lagi: 20 Saksi Diperiksa, Mahfud dan Sudirman Kirim Sinyal Keras untuk Mafia Migas

Mereka menyebut pengangkatan itu cacat adat dan berimplikasi pada ketidaksahan penetapan putra mahkota.

Di sisi lain, kubu Purbaya meyakini pengangkatan mereka sesuai wasiat mendiang raja. Perdebatan inilah yang menjadi bara di balik perebutan takhta.

Halaman:

Tags

Terkini