“Di mana kami akan melihat apakah memang ada terjadi tindak pidana di dalamnya,” jelasnya.
Penyidik juga masih menelusuri penyebab gangguan kesehatan yang dialami MH. “Polisi juga akan menyelidiki terkait penyebab sakit yang diderita korban untuk memastikan hal itu berkaitan dengan tindak pidana,” tegas Victor.
Kasus ini mengingatkan bahwa proses hukum tak selalu berjalan cepat, apalagi jika kesehatan korban menjadi faktor utama.
Jeritan Kakak dan Dukungan untuk Keluarga, Publik Serentak Tersentuh
MH diduga dipukul menggunakan kursi besi oleh teman sekelasnya pada 20 Oktober 2025, membuatnya jatuh sakit hingga kini dirawat intensif.
Publik baru mengetahui kasus ini setelah unggahan akun Instagram @tangsel.info yang memuat curahan pilu sang kakak viral.
“Adik saya kena korban pembulian, bagian kepalanya dipukul pakai kursi sekolah yang besi,” tulis kakak korban.
Ia menambahkan bahwa MH baru mengadu sehari setelah kejadian karena tak mampu lagi menahan sakit.
“Sehari setelah itu dia baru mengadu ke keluarga karena sudah tidak kuat menahan sakit,” tandasnya.
Melihat situasi ini, polisi menegaskan komitmen untuk mendampingi keluarga dan menyelesaikan kasus secara profesional.
“Kami juga memberikan semangat kepada korban dan keluarganya… Jika kondisi anak membaik, orang tua siap memberikan informasi," kata Victor.
Di tengah derasnya perhatian publik, empati menjadi jembatan antara hukum, keluarga, dan masyarakat luas.***