Sorotan ke CSR yang Dianggap Lebih Sering Jadi Wacana daripada Manfaat Nyata
Isu CSR menjadi topik panas yang langsung diangkat tanpa basa-basi. Warga mempertanyakan data penerima CSR yang dinilai tidak transparan dan sulit diakses.
Masalahnya bukan sekadar “siapa dapat apa,” tetapi apakah CSR benar-benar jatuh ke tangan orang yang membutuhkan, atau justru melenceng entah ke mana.
Dalam forum itu, warga tak malu-malu lagi menyampaikan kekecewaan mereka, terutama karena janji kesejahteraan dari CSR belum benar-benar terasa di akar rumput.
Baca Juga: Info Jadwal & Tarif Kapal Dharma Lautan Utama Rute Semarang Ke Kumai Periode 16 – 29 November 2025
Rapat pun semakin hidup ketika isu ini dibahas karena CSR, dalam kacamata warga, sudah seperti mitos sering dibicarakan, tapi jarang terlihat wujudnya.
DPRD Minta Transparansi Total: Dari Data, Alokasi, sampai Eksekusi Lapangan
Pemerintah daerah dan DPRD Banyuwangi diminta bergerak cepat untuk memastikan transparansi dalam pengelolaan dana CSR yang kini berganti nama menjadi PPM (Program Pemberdayaan Masyarakat).
Permintaan ini bukan basa-basi formalitas, melainkan tuntutan publik yang mendesak.
Wakil rakyat menegaskan bahwa semua data penerima harus dibuka, agar tak ada lagi kecurigaan dan ketimpangan.
Dalam forum, Suwito menegaskan bahwa perusahaan harus benar-benar memikirkan warga Banyuwangi, khususnya di ring satu.
Pesannya lugas transparansi bukan pilihan, melainkan kewajiban. Rapat kali ini menjadi momentum untuk mengingatkan semua pihak bahwa publik pantas mendapatkan kejelasan.
Pesan Suwito: “CSR Jangan Salah Alamat, Jangan Salah Sasaran”
Dalam momen yang paling menyita perhatian, Suwito tampil tegas dan tanpa basa-basi.