Deni juga mengungkapkan bahwa kesulitan mengakses pernyataan resmi dari Bupati dan Wakil Bupati bukanlah hal baru.
Bahkan, ketika ada kesempatan bertanya, pengawalan yang ketat sering kali menjadi penghambat.
Hal serupa juga dialami Restu Syauqi, jurnalis ayobandung.com, saat melakukan doorstop dengan Bupati Jeje Ritchie di lokasi bencana banjir bandang di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, pada Sabtu (15/3/2025) malam.
Restu mengaku mendapat intimidasi dari oknum ajudan yang tidak hanya membatasi waktu wawancara menjadi 1-2 menit, tetapi juga melakukan intimidasi fisik secara langsung.
Baca Juga: BPH Migas: Pasokan BBM Selama Liburan Mudik Lebaran Aman
"Kami hanya bertanya tentang penanganan bencana, tapi Walpri Pak Jeje terus memantau dengan gestur tubuh yang mengintimidasi. Seharusnya tidak berperilaku seperti itu. Kami bekerja untuk menyampaikan informasi kepada publik," ujar Restu.
Para jurnalis berharap sikap arogan dan intimidatif dari pengawal pribadi Bupati dan Wakil Bupati KBB segera dihentikan. Sebagai pemimpin daerah yang juga adik ipar Rafi Ahmad (Sultan Andara), keterbukaan terhadap media menjadi hal penting untuk transparansi kebijakan publik.
Kasus ini menjadi perhatian serius bagi kebebasan pers di KBB. Wartawan yang bertugas di lapangan berharap adanya tindakan tegas terhadap oknum pengawal yang menghalangi kerja jurnalistik, serta memastikan bahwa akses informasi bagi publik tetap terbuka tanpa adanya intimidasi.***