Selain upah besar, mereka juga dijanjikan fasilitas makan tiga kali sehari selama bekerja di perkebunan tebu tersebut.
Tidak hanya itu, para pekerja bahkan dijanjikan kopi gratis sebagai fasilitas tambahan selama berada di lokasi kerja.
Janji tersebut membuat para korban semakin yakin untuk berangkat ke Sumatera Selatan demi mencari penghasilan lebih baik.
Namun sesampainya di lokasi, kondisi yang mereka hadapi ternyata tidak sesuai dengan penjelasan awal dari mandor perekrut.
Sistem Kerja Berubah Jadi Borongan
Setelah tiba di lokasi perkebunan, para pekerja mulai menyadari adanya perbedaan antara janji awal dan kenyataan di lapangan.
Sistem kerja yang semula disebut berbasis harian ternyata berubah menjadi sistem borongan.
"Pas sampai ke sana ternyata bukan sistem harian, tapi borongan," ujar Dede.
Perubahan sistem kerja tersebut membuat penghasilan yang diterima para pekerja menjadi tidak menentu.
Mereka tetap harus bekerja keras memotong tebu meski pembayaran yang diterima tidak sesuai harapan awal.
Hasil Kerja Diduga Tidak Sesuai Catatan Perusahaan
Dede menuturkan bahwa selama tiga hari bekerja, kelompok mereka mampu menghasilkan sekitar 30 ton tebu.
Jumlah tersebut disebut merupakan hasil kerja berat para pekerja di tengah kondisi perkebunan yang melelahkan.
Akan tetapi, menurut Dede, perusahaan hanya mencatat hasil kerja mereka sebanyak 11 ton tebu saja.
Artikel Terkait
Walid Versi Pati! Oknum Kiai Pengasuh Ponpes di Tlogowungu Cabuli Puluhan Santriwati, Bahkan Ada yang Hamil!
Nyentrik! Mahasiswa UMBY Tunggangi Sapi Jantan Saat Menuju Acara Wisuda Kelulusan
Viral Tabrak Lari Pajero di Kalimalang Jakarta Timur dan Pedagang Buah Ditabrak Saat Menyeberang di Zebra Cross
Kebakaran Metro Sport Center Semarang, Korban Terjebak di Lantai 3 Dievakuasi Damkar, Video Detik-Detik Penyelamatan Viral di Instagram
Tragedi Sungai Kemaceak Lebong, Air Bah Datang Mendadak Hanyutkan 8 Pelajar, Video Viral Tunjukkan Detik-Detik Korban Berjuang di Arus Deras