Kalimat itu menggambarkan betapa terbatasnya pilihan warga saat ini.
Meski sadar risikonya, mereka tetap mengandalkan sumur darurat itu.
Air Keruh Tetap Dipakai Demi Kebutuhan Dasar
Meski secara kasat mata air tersebut tampak keruh dan tidak layak, warga tidak punya pilihan lain.
Kebutuhan membersihkan badan dan pakaian menjadi prioritas di tengah keterbatasan.
Risiko kesehatan terpaksa dikesampingkan demi bertahan hidup.
Dalam unggahan itu, sang wanita kembali menuturkan kegelisahannya.
"Walaupun tidak jernih tapi air ini sangat kita perlukan untuk mencuci baju, untuk mandi," lanjutnya.
Kalimat itu memperlihatkan dilema yang dihadapi warga setiap hari.
Air keruh menjadi satu-satunya penolong di tengah krisis.
Berbagi Titik Air di Tengah Keterbatasan
Warga kini harus berbagi sumber daya yang ada demi memenuhi kebutuhan bersama.
Mereka mendatangi beberapa titik sumur yang dianggap masih bisa mengeluarkan air.
Artikel Terkait
Jangan Salah Niat! Ini Hukum Puasa Rajab Sekaligus Qadha Ramadhan Menurut Ulama
5.000 Insan BRILiaN Melangkah Bersama, BRI Buktikan Gotong Royong Masih Hidup
Tragedi Tol Krapyak Semarang: Kronologi Lengkap Bus PO Cahaya Trans Terguling, 15 Orang Tewas
Dari Rumah Biru ke Tenda Pengungsian, Cerita Pilu Anak-Anak Sipange Usai Banjir Bandang Menghanyutkan Harapan
Sumatera Berduka! Cerita Ayah Kehilangan Anak di Tengah Banjir Bandang dan Longsor Garoga