Meski kualitasnya sangat memprihatinkan, titik-titik itu menjadi harapan terakhir.
Aktivitas warga tampak silih berganti mengambil air di lokasi tersebut.
"Di sini ada beberapa titik sumur yang bisa kita ambil," katanya sambil menunjukkan sekitar.
Kalimat itu menandakan betapa terbatasnya sumber air yang tersisa.
Baca Juga: Cinta Tak Terhalang Jeruji, Video Ibu Tahanan Bertemu Putrinya di Surabaya Bikin Hati Luluh
Setiap tetes air kini terasa begitu berharga.
Seperti Kembali ke Zaman Dulu
Krisis air bersih ini dirasakan warga sebagai sebuah kemunduran yang menyedihkan.
Hidup berdampingan dengan lumpur dan air keruh membuat mereka merasa kehilangan kenyamanan hidup layak.
Kondisi ini bukan hanya soal fisik, tapi juga beban psikologis.
Dalam video itu, sang wanita mengungkapkan perasaannya dengan nada getir.
"Airnya memang tidak jernih, jadi seperti kembali ke zaman dulu," pungkasnya.
Ucapan itu menggambarkan rasa putus asa sekaligus pasrah.
Warga Aceh Tamiang kini hanya berharap keadaan segera membaik.
Artikel Terkait
Jangan Salah Niat! Ini Hukum Puasa Rajab Sekaligus Qadha Ramadhan Menurut Ulama
5.000 Insan BRILiaN Melangkah Bersama, BRI Buktikan Gotong Royong Masih Hidup
Tragedi Tol Krapyak Semarang: Kronologi Lengkap Bus PO Cahaya Trans Terguling, 15 Orang Tewas
Dari Rumah Biru ke Tenda Pengungsian, Cerita Pilu Anak-Anak Sipange Usai Banjir Bandang Menghanyutkan Harapan
Sumatera Berduka! Cerita Ayah Kehilangan Anak di Tengah Banjir Bandang dan Longsor Garoga