Kondisi ini diperparah oleh rendahnya belanja riset dan pengembangan (R&D) yang masih di kisaran 0,28% dari PDB.
Intensitas paten nasional pun dinilai masih lemah.
Angka ini menunjukkan bahwa inovasi belum menjadi motor utama pertumbuhan.
Padahal, negara-negara maju menempatkan R&D sebagai investasi strategis.
Baca Juga: Momen Menggetarkan di Pengungsian Agam, Ibu-ibu Bernyanyi Indonesia Raya Sambut Prabowo
Tanpa lonjakan di sektor ini, sulit berharap terjadi lompatan produktivitas.
Tantangan ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan industri.
Kebijakan Industri Harus “Memaksa” Proses Pembelajaran
Ibrahim menekankan bahwa penguatan kebijakan industri berbasis inovasi membutuhkan arah yang lebih operasional.
Menurutnya, kebijakan tidak cukup berhenti pada peningkatan belanja atau insentif umum.
Kebijakan harus dirancang untuk mendorong bahkan “memaksa” terjadinya proses pembelajaran industri.
Caranya melalui penguatan keterkaitan antara riset, sektor industri, dan pembiayaan.
Baca Juga: Ammar Zoni Ungkap Dirinya Disetrum Oknum Polisi Agar Akui Edarkan Narkoba dalam Rutan Salemba
Selain itu, insentif fiskal, pembiayaan, dan regulasi perlu diselaraskan.
Tujuannya agar perusahaan terdorong naik ke aktivitas bernilai tambah dan berteknologi lebih tinggi.
Artikel Terkait
Tak Sekadar Ganti Wajah, Corporate Rebranding BRI Jadi Penegasan Tetap Setia Mendukung UMKM Indonesia
Bukan Cuma Janji, Ini Aksi Nyata BRI Hadir di Tengah Korban Bencana Sumatra
Siapa Suyudi Ario Seto? Kepala BNN, Baru Menjabat dan Berhasil Bongkar Sabu 2 Ton
Miris! Pascabanjir Bandang, Warga Desa Kuba Hitam Bireuen Menyeberang Sungai Pakai Tali
Aplikasi Matel Tumbang Satu per Satu, Ini Aksi Tegas Pak Bray yang Disorot Publik