Kehadiran mereka memperkuat harapan bahwa tubuh-tubuh korban yang hilang bisa segera ditemukan.
Tugas itu tak mudah, karena kerusakan alam di lokasi kejadian jauh lebih kompleks dari cerita di permukaan.
Medan Penuh Kayu dan Material Banjir Bikin Deteksi Hampir Mustahil
Mualem mengungkapkan bahwa relawan-relawan BSR kesulitan bekerja karena medan dipenuhi tumpukan kayu.
Material itu bukan sekadar hambatan fisik, tetapi juga menutupi sinyal deteksi yang mereka andalkan.
Akibatnya, kinerja tim belum bisa maksimal seperti yang diharapkan masyarakat Aceh.
Air yang masih menggenang, lumpur yang masih aktif bergerak, dan sisa-sisa puing menjadikan pencarian seperti bekerja dalam teka-teki besar.
“Medannya masih digenangi kayu-kayuan,” ujar Mualem, menggambarkan situasi yang pelik.
Kondisi ini sering membuat relawan kewalahan, bukan karena kurangnya kemampuan, tetapi karena alam seakan membentengi jejak yang ingin mereka temukan.
Meski demikian, tim tetap melanjutkan pencarian tanpa menyerah.
Setelah Aceh Utara, Mereka Dikirim ke Aceh Tamiang
Baca Juga: Kisah Masjid Taqwa Guo yang Tetap Kokoh Walau Diterjang Banjir Bandang di Padang
Setelah bekerja beberapa hari di Aceh Utara, tim China kini dijadwalkan berpindah ke Aceh Tamiang.
Perpindahan ini dilakukan mengikuti prioritas wilayah yang masih memiliki laporan korban hilang dan kondisi medan paling menantang.
Artikel Terkait
Info Penting! Jadwal dan Tarif Kapal PT Dharma Lautan Utama Rute Banjarmasin – Surabaya PP Periode 15-31 Desember 2025, Cek Disini Lengkapnya!
Duka Terra Drone! Ketika Buruh Perempuan dan Ibu Hamil Masih Belum Benar-Benar Dilindungi
Komitmen IFG Menjadikan KIP sebagai Layanan Publik yang Modern dan Terstandarisasi
Bagaimana 34 Pengajuan KUR Bisa Jadi Fiktif? Ini Detail Sidang Eks Pejabat BTN yang Terbongkar di Tipikor Serang
Banjir Jeddah 2025: Video Viral, Prediksi Badai, dan Kenapa Makkah dan Madinah Ikut Diperingatkan?