KLIK SAJA - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Utara menuding sejumlah perusahaan sebagai pihak yang diduga menjadi penyebab banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Tapanuli.
Sejak Selasa (25/11/2025), delapan kabupaten/kota di Sumatra Utara terdampak banjir bandang dan longsor. Kabupaten Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah menjadi wilayah yang paling parah mengalami kerusakan.
Bencana ekologis ini menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi, ribuan rumah rusak atau hancur, ribuan hektare lahan pertanian terdampak, serta aktivitas ekonomi di 51 desa di 42 kecamatan lumpuh total.
Direktur Eksekutif Walhi Sumatra Utara, Rianda Purba, mengatakan bahwa pihaknya memberi perhatian khusus pada Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga sebagai kawasan yang paling terdampak.
Padahal, menurut Rianda, Harangan Tapanuli atau Batang Toru merupakan salah satu bentang hutan tropis esensial terakhir yang tersisa di Sumatra Utara.
“Kami mengindikasikan tujuh perusahaan sebagai pemicu kerusakan karena aktivitas eksploitatif yang membuka tutupan hutan Batang Toru,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/11/2025).
Ia menegaskan bahwa banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi tidak semata-mata disebabkan oleh hujan ekstrem.
Baca Juga: Dari Perahu Karet sampai Ribuan Makanan Siap Saji, Aksi Cepat BRI Peduli untuk Warga Sumatera
Analisis citra satelit menunjukkan adanya area hutan yang telah gundul di sekitar lokasi bencana.
Rianda menyebut bahwa bencana ekologis ini merupakan bukti kegagalan negara dalam mengendalikan kerusakan lingkungan.
Karena itu, Walhi mendesak pemerintah segera menetapkan kebijakan perlindungan ekosistem Batang Toru melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional secara terpadu.
Selain itu, Walhi Sumatra Utara meminta pemerintah memastikan pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas, serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap wilayah rawan bencana guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
“Kami turut berduka atas bencana ekologis yang menimpa Sumatra Utara. Semoga para penyintas diberi kekuatan dan kebutuhan dasarnya segera terpenuhi. Kami tidak ingin bencana ini berulang. Negara harus bertindak dan menindak para pelanggar,” pungkas Rianda.
Bencana alam di wilayah Tapanuli merupakan bom waktu akibat keserakahan manusia dalam mengeksplotasi alam demi kepentingan ekonomi semata.