Ia menyentil bagaimana kekuasaan dapat memainkan narasi, terutama ketika kepentingan politik lebih dominan daripada fakta sejarah.
Dengan jujur, Gita menyampaikan bahwa luka itu bukan hanya tentang masa lalu ayahnya, tetapi tentang identitasnya sebagai anak seorang aktivis.
Pesannya menjadi pengingat bahwa sejarah selalu punya sisi yang tidak tercatat dalam buku pelajaran.
Pengakuan Personal: Trauma, Kesulitan, dan Perundungan Seorang Anak Aktivis
Baca Juga: Blibli Store Central Park Resmi Hadirkan The New Apple Shop, Belanja Premium Apple Kini Lebih Mudah
Gita membuka sisi hidup yang jarang ia bagikan, termasuk masa kecilnya sebagai anak aktivis yang harus hidup dalam masa pengasingan.
Ia menceritakan bagaimana ia mengalami perundungan di Amerika Serikat hanya karena membawa makanan Indonesia ke sekolah.
Setelah kembali ke Indonesia, ia justru merasa terasing karena dianggap “berbeda”, menambah lapisan baru pada traumanya.
Ia juga mengenang momen ketika ayahnya menghilang pada 1998, membuat keluarga diliputi kecemasan panjang.
Ketika sang ayah kembali dalam keadaan lusuh setelah disembunyikan di got oleh murid-muridnya demi menghindari aparat, pengalaman itu melekat sebagai kenangan yang tak pernah benar-benar sembuh.
Kalimat “Indonesia akan reformasi. Gita, kita sekarang bebas,” menjadi memori yang menandai titik balik hidupnya.
Kisah personal itu memberi konteks mendalam tentang mengapa Gita begitu keras mempertanyakan siapa yang kini diberi gelar pahlawan.
Penolakan untuk Melupakan dan Kritik Terhadap Narasi Resmi Sejarah
Dalam unggahannya, Gita tegas menyampaikan bahwa ia menolak menghapus kisah ayahnya demi menyesuaikan diri dengan narasi sejarah yang sedang populer.
Artikel Terkait
Pahlawanku Teladanku, IFG Bangkitkan Semangat Juang Lewat Upacara dan Santunan Veteran
Sorotan Tajam Mahfud MD: Titik Terlemah Polri Justru di Penegakan Hukum
Harapan, Air Mata, dan Terima Kasih: Cerita Keluarga Pahlawan Nasional di Istana Negara
Dari Rekayasa Hukum hingga Pemalsuan Dokumen, JK Bongkar Modus Lama Mafia Tanah di Indonesia
Mengungkap Pembentukan Ditjen Khusus Untuk Pondok Pesantren: Upaya Peningkatan Fungsi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat