“Saya kan dulu sudah menyatakan komitmen, standar etik saya, jabatan di pemerintahan ini harus diduduki oleh mereka yang menang, yang berkeringat secara politik. Saya kan tidak,” ujar Mahfud.
Telepon Jenderal Menjelang Reshuffle
Dalam kesempatan yang sama, Mahfud menceritakan dirinya sempat dihubungi seorang jenderal senior pada Minggu, 7 September 2025, sesaat sebelum reshuffle kabinet diumumkan.
Mahfud menyebut, jenderal itu memintanya segera datang ke Jakarta dan menawarkan kursi Menko Polkam.
“Malam menjelang pelantikan (menteri), menjelang pengumuman reshuffle, ‘Pak Mahfud di mana?’ ‘Saya di Yogya’. ‘Ke sini (Jakarta),’ katanya oleh sang jenderal,” ungkapnya.
Jawaban yang Mengambang
Meski mendapat tawaran langsung, Mahfud mengaku tidak memberikan jawaban tegas.
Mahfud merasa menolak secara terang-terangan bisa menimbulkan kesan angkuh, namun menerima pun bukan pilihannya.
“Ngambang (jawaban) saya. Saya tidak bilang iya. Ndak enak menolak, kalau menolak ‘sombong banget nih orang' begitu,” jelas Mahfud.
Catatan untuk Reformasi Polri
Di sisi lain, Mahfud menegaskan fokusnya pada reformasi Polri. Ia menyebut ada tiga aspek penting yang harus dibenahi, yakni terkait aturan, aparat, dan budaya.
Dari ketiganya, eks Menko Polhukam RI itu menekankan perubahan kultur sebagai yang paling mendesak.
“Polisi ini kehilangan kultur, budaya pengabdian. Sehingga enggak banyak yang perlu dirombak, karena aturan apapun yang dicari tentang Polri yang bagus itu gimana sih, sudah ada semua di UU,” ucap Mahfud.
Artikel Terkait
Buat Pencari Kerja! Ayo Ikutan Jakarta Pusat Job Festival 2025 Mulai 30 September, Cek Disini Lengkapnya!
DPR Usulkan Ganti MBG Jadi Bantuan Tunai, Istana Tegaskan Konsep Sekarang Paling Tepat
Menkeu Purbaya: Anggaran Subsidi Listrik Berpotensi Sentuh Rp89 Triliun, Pemerintah Siapkan Berbagai Upaya Pengurangan
Buat Warga Tangsel! Ayo Ikutan Job Fair Mall WTC Matahari Serpong 2025 Pada 29-30 September, Cek Disini Lengkapnya!
Siapa Wahyudin Moridu? Anggota DPRD Gorontalo yang Viral ‘Rampok Uang Negara’