Pertunjukan ini juga berisi syair-syair kehidupan yang terbagi dalam tiga tema: masaala (ajaran Islam), kisah sosial dan percintaan, serta tede, yaitu improvisasi syair yang seringkali memuji perempuan yang hadir.
Meski pemain kacaping kini mulai langka, tradisi ini tetap bertahan dan dihormati sebagai warisan budaya penuh nilai.
Lebih dari sekadar hiburan, kacaping adalah cerminan jiwa masyarakat Mandar—penuh harap, janji, dan kisah tentang laut yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.***