KLIK SAJA - Di balik keindahan Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, tersimpan kekayaan budaya yang tak ternilai yaitu Tenun Masalili.
Kain tradisional ini merupakan hasil karya tangan-tangan terampil para perempuan di Desa Masalili, yang mewarisi keterampilan menenun dari generasi ke generasi.
Tenun Masalili bukan sekadar kain, melainkan wujud nyata dari sejarah, kreativitas, dan ketekunan masyarakat setempat yang telah ada sejak masa Kerajaan Muna.
Pada masa lalu, kain tenun Masalili dibuat dari kulit kayu dan kapas yang dipintal menjadi benang secara manual.
Proses pewarnaan pun menggunakan bahan alami dari tumbuhan sekitar, seperti daun mangga, kulit mahoni, dan kayu secang.
Teknik pewarnaan ini sehingga memberikan karakter warna cerah seperti merah, kuning, oranye, ungu, dan hitam—yang melambangkan semangat, keberagaman, dan kekayaan budaya masyarakat Muna.
Motif tenun Masalili sangat beragam dan memiliki makna simbolis.
Salah satu motif paling khas adalah bhotu, yang dahulunya diperuntukkan bagi kaum bangsawan.
Ada pula motif samasili, dhalima, dan leja yang masing-masing menggambarkan filosofi kehidupan masyarakat Muna.
Umumnya, tenun Masalili identik dengan motif garis-garis yang berpadu dengan warna-warna terang, menjadikannya menonjol sekaligus elegan.
Kualitas dan keindahan Tenun Masalili telah menarik perhatian desainer nasional ternama seperti Itang Yunasz, Denny Wirawan, Didiet Maulana, dan Defrico Audy.
Mereka kerap memadukan kain tenun ini dalam berbagai koleksi busana modern yang ditampilkan di panggung fashion Tanah Air hingga mancanegara.
Harga kain tenun Masalili sangat bervariasi, mulai dari Rp200.000 untuk sarung sederhana hingga Rp2 juta untuk kain berbahan katun dan pewarna alami yang dibuat dengan telaten.
Maka dengan kualitas dan nilai budaya yang tinggi, tenun ini kian diminati sebagai cendera mata khas Sulawesi Tenggara, baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.