Dalam bahasa Guaraní, tanaman ini disebut kaʼa, yang berarti “herba” atau “tanaman obat”.
Sementara dalam bahasa Tupí, istilah congonha berasal dari ungkapan kõ'gõi, yang berarti “sesuatu yang membuat kita tetap hidup”, meski istilah ini kini jarang digunakan.
Kata mate sendiri berasal dari bahasa Quechua, mati, yang berarti “wadah minuman”, “seduhan herba”, atau “labu kering” (tempat tradisional untuk menyeduh minuman ini).
Dari situlah istilah mate digunakan dalam bahasa Spanyol dan Portugis hingga sekarang.
Perkembangan Sejarah dan Ekonomi Yerba Mate
Yerba mate awalnya dikonsumsi oleh masyarakat Guaraní, kemudian menyebar ke suku-suku Tupí di wilayah Amambay dan Alto Paraná, Paraguay.
Saat masa kolonial Spanyol pada akhir abad ke-16, mate menjadi minuman populer di kalangan penduduk asli maupun para pemukim Spanyol.
Popularitasnya menjadikan mate komoditas utama Paraguay, bahkan melebihi tembakau. Tenaga kerja masyarakat adat digunakan untuk memanen tanaman liar di hutan-hutan mate.
Pada pertengahan abad ke-17, para Jesuit berhasil menjinakkan tanaman ini dan membangun perkebunan di wilayah Misiones, Argentina.
Keberhasilan ini menimbulkan persaingan sengit dengan para pemanen liar dari Paraguay. Setelah ordo Jesuit diusir pada tahun 1770-an, perkebunan mereka terbengkalai dan rahasia domestikasi tanaman pun hilang.
Setelah kemerdekaan Paraguay, industri mate tetap menjadi sektor penting ekonomi nasional, hingga kemudian Perang Tiga Sekutu (1864–1870) menghancurkan negara tersebut secara ekonomi dan demografis.
Sebagian wilayah perkebunan mate bahkan beralih menjadi milik Argentina.
Setelah perang, Brasil menjadi produsen mate terbesar. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, baik Brasil maupun Argentina mulai kembali mendomestikasi tanaman ini melalui sistem perkebunan modern.
Ketika para pengusaha Brasil beralih ke industri kopi pada 1930-an, Argentina — yang selama ini menjadi konsumen utama — mengambil alih posisi sebagai produsen terbesar, khususnya di Provinsi Misiones, wilayah yang dulu dikelola para Jesuit.
Selama bertahun-tahun, posisi produsen terbesar bergantian antara Brasil dan Argentina. Kini, Brasil memimpin dengan 53% produksi global, disusul Argentina (37%), dan Paraguay (10%).