Misalnya, "Jika kamu terus membentakku, aku akan mengakhiri percakapan ini," atau "Jika kamu melanggar privasiku lagi, aku akan mempertimbangkan kembali kelanjutan hubungan kita."
Selain menetapkan batasan, langkah penting lainnya adalah memprioritaskan kebutuhan diri sendiri.
Dalam hubungan toksik, kebutuhanmu seringkali ditempatkan di posisi terakhir, bahkan mungkin tidak dianggap sama sekali.
Sekarang saatnya mengubah itu.
Mulailah dengan melakukan hal-hal kecil yang membuatmu merasa baik.
Makan makanan sehat, cukup tidur, berolahraga, atau sekadar meluangkan waktu untuk hobimu yang sempat terlupakan.
Prioritaskan kesehatan mental dan fisikmu.
Ini bukan tindakan egois, melainkan tindakan self-preservation yang esensial.
Kamu tidak akan bisa menjadi versi terbaik dari dirimu, apalagi membantu orang lain (jika itu yang kamu inginkan), jika dirimu sendiri tidak sehat dan utuh.
Pelajaran penting yang bisa dipetik dari proses menetapkan batasan dan memprioritaskan diri adalah bahwa nilaimu tidak ditentukan oleh perlakuan orang lain terhadapmu.
Kamu memiliki nilai intrinsik yang layak dihormati dan dilindungi.
Belajar menempatkan diri sendiri di urutan pertama bukanlah keegoisan, melainkan self-respect atau penghormatan terhadap diri sendiri.
Ini membangun kembali harga diri yang mungkin telah terkikis dalam hubungan toksik tersebut.
Ingat, kamu berhak diperlakukan dengan baik, hormat, dan penuh kasih sayang.
Menetapkan batasan adalah cara untuk mengajarkan orang lain bagaimana seharusnya mereka memperlakukanmu, dan yang terpenting, ini adalah cara kamu mengajarkan dirimu sendiri bahwa kamu layak mendapatkan yang terbaik.