lifestyle

4 Alasan Mengapa Literasi Minat Membaca Indonesia Sangat Rendah

Senin, 12 Mei 2025 | 04:27 WIB
ilustrasi seorang anak pilih main game ketimbang membaca buku (yayasan Lazuardi)

KLIK SAJA - Peringkat literasi membaca Indonesia dalam Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) 2022 menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: Indonesia berada di posisi ke-69 dari 80 negara peserta.

Meskipun secara peringkat mengalami kenaikan dibanding PISA 2018, skor literasi justru mengalami penurunan dari 371 poin menjadi 359 poin.

Hal ini bukan sekadar angka—melainkan sinyal serius bahwa kemampuan literasi generasi muda Indonesia tengah berada dalam kondisi kritis.

Bahkan, skor ini merupakan yang terendah sejak tahun 2000, dan jauh tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan rendahnya minat baca di Indonesia. Berikut empat di antaranya:

Kurangnya Dukungan dari Orang Tua

Lingkungan keluarga merupakan pondasi awal dalam membentuk budaya literasi. Sayangnya, banyak orang tua di Indonesia yang tidak memiliki kebiasaan membaca.

Baik karena keterbatasan waktu, rendahnya kesadaran akan pentingnya membaca, maupun minimnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas.

Anak-anak cenderung meniru kebiasaan orang tuanya—jika di rumah tidak ada budaya membaca, maka anak pun tidak akan tumbuh dengan kebiasaan tersebut.

Ketergantungan pada Smartphone

Tingginya penetrasi teknologi di Indonesia tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai. Anak-anak lebih akrab dengan konten video hiburan, game, dan media sosial daripada buku atau artikel edukatif.

Bahkan, banyak orang tua memberikan akses internet dan gawai tanpa pengawasan yang memadai, yang justru menurunkan ketertarikan anak terhadap aktivitas membaca.

Budaya instan dan visual membuat aktivitas membaca buku terasa membosankan dan berat.

Minimnya Perpustakaan Berkualitas

Halaman:

Tags

Terkini