Di banyak wilayah Indonesia, perpustakaan yang tersedia belum memenuhi standar baik dari segi koleksi, kenyamanan ruang, maupun aksesibilitas.
Buku-buku yang tersedia sering kali usang, tidak relevan, atau kurang menarik bagi pembaca muda.
Hal ini berbeda jauh dengan negara-negara maju, di mana perpustakaan dirancang sebagai pusat pembelajaran yang dinamis, menyenangkan, dan mudah diakses siapa saja.
Kurangnya Dukungan Pemerintah
Minimnya buku pegangan dan sumber bacaan di sekolah menjadi bukti lemahnya perhatian pemerintah terhadap penguatan literasi.
Di banyak sekolah, satu buku paket harus digunakan bersama oleh beberapa siswa.
Padahal, untuk menumbuhkan budaya membaca, ketersediaan bahan bacaan yang cukup dan menarik sangatlah penting.
Di negara-negara maju, pelajar didorong membaca puluhan buku dalam seminggu, sementara di Indonesia, anak-anak bahkan belum tentu menyelesaikan satu buku dalam sebulan.
Rendahnya minat baca bukan sekadar masalah pendidikan, tetapi juga mencerminkan lemahnya daya pikir kritis, kemampuan analisis, dan kemauan belajar masyarakat.
Tanpa intervensi serius dari semua pihak—keluarga, sekolah, dan pemerintah—Indonesia akan terus tertinggal dalam aspek fundamental pembangunan manusia: literasi.***