Selain itu, kortisol juga bisa memicu penumpukan lemak di area perut.
Lemak perut atau visceral fat ini sangat berbahaya bagi kesehatan karena terkait dengan berbagai risiko penyakit, seperti penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
Jadi, stres yang berkepanjangan bisa membuat kita terjebak dalam siklus makan berlebihan dan penumpukan lemak, yang akhirnya berujung pada kenaikan berat badan.
Sebaliknya, pada beberapa orang, stres justru bisa menyebabkan penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan.
Ini biasanya terjadi karena stres yang sangat berat bisa mengganggu sistem pencernaan dan membuat seseorang merasa mual atau tidak ingin makan.
Jadi, baik kenaikan maupun penurunan berat badan yang drastis bisa menjadi indikasi adanya stres yang perlu diatasi.
2. Stres Dapat Mendorong Kebiasaan Makan yang Tidak Sehat
Selain perubahan hormonal, stres juga seringkali menjadi pemicu kebiasaan makan yang tidak sehat.
Saat merasa tertekan, banyak orang yang mencari pelarian pada makanan sebagai bentuk pelipur lara atau pengalih perhatian.
Kebiasaan "emotional eating" ini seringkali melibatkan konsumsi makanan yang tinggi kalori, rendah nutrisi, dan kurang mengenyangkan.
Contohnya, saat stres, kita mungkin jadi lebih sering ngemil keripik, cokelat, atau makanan cepat saji.
Makanan-makanan ini memang bisa memberikan kesenangan sesaat, tapi dampaknya pada berat badan dan kesehatan jangka panjang tentu tidak baik.
Stres juga bisa mengganggu jadwal makan yang teratur.
Saat sibuk atau merasa tertekan, kita mungkin jadi melewatkan waktu makan atau makan tidak teratur, yang bisa mengganggu metabolisme tubuh dan meningkatkan risiko makan berlebihan di kemudian hari.
Selain itu, stres juga bisa meningkatkan keinginan untuk mengonsumsi minuman manis atau beralkohol.