Jika terasa lebih kental dan tidak selancar biasanya, kemungkinan besar minyak tersebut sudah termasuk kategori minyak jelantah.
4. Periksa Adanya Endapan atau Sisa Makanan di Dalam Minyak
Salah satu ciri khas minyak jelantah adalah adanya endapan atau sisa-sisa makanan yang gosong di dalamnya.
Saat kita menggoreng makanan, terutama makanan yang dilapisi tepung atau memiliki remah, partikel-partikel kecil dari makanan tersebut akan terlepas dan mengendap di dalam minyak.
Jika minyak digunakan berulang kali tanpa disaring dengan baik, endapan ini akan semakin banyak dan menghitam.
Endapan ini tidak hanya membuat tampilan minyak menjadi kotor tetapi juga dapat mempercepat proses kerusakan minyak dan menghasilkan senyawa-senyawa berbahaya.
Sebelum menggunakan minyak goreng, perhatikan apakah ada endapan atau sisa makanan di bagian bawah wadah minyak. Jika ada, sebaiknya ganti minyak tersebut dengan yang baru.
5. Ingat Berapa Kali Minyak Tersebut Sudah Digunakan
Meskipun tidak selalu terlihat jelas dari ciri-ciri fisik, mengingat berapa kali minyak goreng sudah digunakan juga merupakan cara penting untuk mencegah penggunaan minyak jelantah.
Secara umum, minyak goreng sebaiknya tidak digunakan lebih dari 2-3 kali, tergantung pada jenis minyak dan jenis makanan yang digoreng.
Menggoreng makanan yang banyak mengandung air atau tepung cenderung membuat minyak lebih cepat rusak.
Jika kamu sudah menggunakan minyak goreng untuk menggoreng beberapa kali, meskipun belum terlihat perubahan warna atau aroma yang signifikan, sebaiknya tetap diganti dengan minyak yang baru demi kesehatan kuliner Anda.
Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?
6. Perhatikan Perubahan Saat Proses Memasak
Terkadang, kita bisa mengenali minyak jelantah saat sedang proses memasak.