Penderita bisa tiba-tiba merasa sangat haus, sering buang air kecil, mengalami penurunan berat badan yang signifikan, dan mudah merasa lelah.
Sedangkan pada diabetes tipe 2, gejala biasanya berkembang secara bertahap selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Seringkali, gejala awalnya sangat ringan sehingga penderita tidak menyadarinya.
Inilah mengapa banyak orang dengan diabetes tipe 2 baru terdiagnosis saat mereka memeriksakan diri untuk kondisi lain atau saat sudah muncul komplikasi.
6. Pengelolaan Penyakit: Fokus pada Insulin vs. Kombinasi Berbagai Metode
Pengelolaan diabetes tipe 1 fokus utama pada penggantian insulin yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh.
Ini dilakukan melalui suntikan insulin beberapa kali sehari atau dengan menggunakan pompa insulin.
Selain itu, penderita diabetes tipe 1 juga perlu memantau kadar gula darah mereka secara teratur, mengatur pola makan, dan berolahraga.
Sementara itu, pengelolaan diabetes tipe 2 melibatkan kombinasi dari berbagai metode.
Pada tahap awal, perubahan gaya hidup seperti diet sehat, olahraga teratur, dan penurunan berat badan (jika diperlukan) seringkali menjadi langkah pertama.
Jika perubahan gaya hidup saja tidak cukup untuk mengontrol kadar gula darah, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan oral atau suntikan non-insulin.
Pada beberapa kasus, terapi insulin juga mungkin diperlukan.
Pemantauan kadar gula darah secara teratur juga penting untuk penderita diabetes tipe 2, meskipun frekuensinya mungkin tidak sesering pada diabetes tipe 1.
7. Faktor Risiko: Genetik Kuat vs. Pengaruh Gaya Hidup yang Dominan
Faktor genetik memainkan peran yang lebih kuat pada diabetes tipe 1.