Ketika seseorang merasa kesepian, tubuhnya merespons dengan cara yang mirip seperti saat mengalami stres kronis.
Respons stres ini memicu pelepasan hormon-hormon seperti kortisol dan adrenalin.
Dalam jangka pendek, hormon-hormon ini membantu kita menghadapi situasi yang menantang.
Namun, jika kadar hormon stres ini terus-menerus tinggi akibat perasaan kesepian yang berkepanjangan, dampaknya bisa merugikan kesehatan jantung.
Peningkatan kadar kortisol dapat menyebabkan peradangan di seluruh tubuh, termasuk di arteri jantung.
Peradangan kronis ini merupakan faktor risiko utama penyakit jantung.
Selain itu, adrenalin yang terus-menerus diproduksi dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung, yang juga memberikan tekanan ekstra pada jantung dalam jangka panjang.
Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang merasa kesepian cenderung memiliki tingkat protein C-reaktif yang lebih tinggi dalam darah mereka.
Protein ini merupakan penanda peradangan dalam tubuh.
Dengan demikian, kesepian secara langsung dapat memicu respons fisiologis yang merugikan kesehatan jantung.
2. Hubungan Tidak Langsung: Gaya Hidup Tidak Sehat Akibat Kesepian
Selain dampak langsung pada fisiologi tubuh, kesepian juga dapat memengaruhi kesehatan jantung secara tidak langsung melalui pilihan gaya hidup yang kurang sehat.
Orang yang merasa kesepian mungkin cenderung mengadopsi kebiasaan-kebiasaan yang merugikan kesehatan, seperti pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, merokok, atau mengonsumsi alkohol secara berlebihan.
Makan makanan yang tidak sehat, tinggi lemak jenuh, gula, dan garam, dapat meningkatkan risiko obesitas, tekanan darah tinggi, dan kadar kolesterol jahat yang tinggi – semuanya merupakan faktor risiko penyakit jantung.
Kurangnya aktivitas fisik juga berkontribusi pada obesitas dan melemahkan otot jantung.