Selain itu, tradisi seperti ngabuburit (menunggu waktu berbuka) dilakukan dengan cara sederhana, seperti bermain di lapangan atau mengunjungi pasar Ramadan tanpa perlu mengabadikan setiap momen untuk diunggah ke sosial media.
Takjil Buatan Rumah
Salah satu kenangan manis Ramadan 90an adalah takjil buatan rumah yang selalu dinanti-nanti.
Ibu atau nenek biasanya menyiapkan takjil sederhana seperti kolak pisang, es buah, atau bubur kacang hijau.
Rasanya yang khas dan penuh cinta membuat takjil buatan rumah terasa lebih nikmat dibandingkan takjil instan atau beli di luar.
Baca Juga: Alasan Kenapa Orang Berlomba-lomba Berbagi Makanan di Bulan Ramadan, Lengkap Landasan Fiqhnya
Selain itu, proses membuat takjil bersama keluarga juga menjadi momen berharga yang mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Saling Kirim Kartu Ucapan
Di era 90an, teknologi belum secanggih sekarang, sehingga orang-orang lebih sering mengirim kartu ucapan Ramadan secara fisik kepada keluarga, teman, atau tetangga.
Kartu ucapan yang berisi doa dan harapan baik ini menjadi salah satu cara untuk menjaga silaturahmi dan menyebarkan kebahagiaan di bulan suci.
Berbeda dengan sekarang, di mana ucapan Ramadan lebih sering dikirim melalui pesan singkat atau media sosial, yang kadang terasa kurang personal dan hangat.***