Ketika kamu scroll berita atau media sosial yang berisi hal-hal yang memicu stres, tubuh kamu merespons dengan memproduksi hormon kortisol—yang dikenal sebagai hormon stres.
Hormon ini membuat tubuh tetap terjaga dan waspada, yang justru menghalangi kamu untuk tidur nyenyak.
Pada akhirnya, kamu jadi terjebak dalam siklus kecemasan dan gangguan tidur, yang makin memperburuk kesehatan mental.
Jika kamu terus-menerus terpapar berita buruk atau terlalu lama menggunakan perangkat sebelum tidur, kamu akan merasa lebih lelah dan stres keesokan harinya.
Baca Juga: 3 Alasan Fleksibilitas dalam Persahabatan Itu Penting bagi Generasi Z
3. Perasaan Terisolasi dan Ketergantungan pada Media Sosial
Dampak ketiga yang sering dialami adalah perasaan terisolasi dan ketergantungan pada media sosial.
Mungkin awalnya kamu berpikir kalau doomscrolling itu cuma cari hiburan atau informasi.
Tapi lama-lama, kamu bisa merasa lebih terhubung dengan dunia maya dibandingkan dengan orang di sekitarmu.
Ketika kamu terlalu sering scroll, kamu bisa kehilangan kontak langsung dengan teman-teman atau keluarga.
Baca Juga: 3 Tips Anti Baper untuk Persahabatan yang Sehat
Media sosial memberi kesan hubungan yang dekat, tapi sebenarnya kamu malah jadi merasa lebih jauh dari orang lain.
Selain itu, banyak orang yang menjadi tergantung pada media sosial untuk mencari validasi atau perhatian.
Setiap notifikasi atau "like" yang kamu terima seolah jadi penguat rasa percaya diri.
Namun, ketika tidak ada interaksi atau feedback positif, kamu malah merasa kesepian dan kurang dihargai.
Kebiasaan ini membuatmu semakin terfokus pada dunia digital dan mengabaikan dunia nyata.