Banyak dari mereka yang lebih suka tidur lebih lama setelah malam yang panjang, dan merasa makan siang lebih pas diadakan sedikit lebih awal daripada biasanya.
Istilah "brunch" pertama kali dicetuskan dalam sebuah artikel di majalah Hunter's Weekly pada tahun 1895.
Artikel itu ditulis oleh Guy Beringer, seorang jurnalis asal Inggris, yang mengusulkan bahwa sarapan yang dipadukan dengan makan siang ini akan menjadi solusi untuk mereka yang ingin menikmati waktu santai tanpa terburu-buru.
Baca Juga: 3 Perbedaan Antara Brunch dan Sarapan. Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini!
Beringer bahkan menyarankan untuk mengganti kebiasaan makan berat di pagi hari dengan makan yang lebih ringan, seperti roti panggang, telur, dan hidangan lainnya yang cocok disantap setelah tidur malam.
Dari sana, istilah brunch mulai dikenal dan lambat laun mulai berkembang menjadi kebiasaan sosial yang lebih luas.
2. Brunch di Inggris dan Perkembangannya ke Amerika
Meskipun awalnya istilah brunch berasal dari Inggris, tradisi ini lebih populer di Amerika Serikat pada abad ke-20.
Di Amerika, brunch mulai menjadi acara sosial yang cukup besar, terutama pada akhir pekan atau saat hari libur.
Seiring dengan berkembangnya gaya hidup masyarakat urban yang lebih santai dan sibuk, brunch dianggap sebagai waktu yang tepat untuk berkumpul bersama teman-teman atau keluarga setelah seminggu penuh dengan aktivitas.
Baca Juga: 3 Tips Mengadakan Acara Brunch yang Sukses Bersama Teman-teman
Pada tahun 1930-an, brunch mulai menjadi bagian dari budaya kuliner di kota-kota besar seperti New York.
Restoran-restoran mulai menawarkan menu brunch, dan orang-orang mulai menganggap brunch sebagai cara yang ideal untuk menikmati waktu di akhir pekan.
Menu brunch pun beragam, mulai dari hidangan manis seperti pancake dan croissant, hingga hidangan gurih seperti omelet dan bacon.
Orang-orang pun semakin antusias dengan brunch sebagai kesempatan untuk menikmati hidangan lezat tanpa harus terburu-buru seperti saat sarapan pagi.