Dengan meningkatnya penggunaan perangkat digital seperti smartphone dan tablet, anak-anak kini memiliki akses yang lebih besar ke dunia maya.
Hal ini memberikan peluang bagi pelaku grooming untuk menjangkau anak-anak melalui media sosial, permainan online, dan aplikasi chatting.
2. Kurangnya Pengetahuan Anak
Banyak anak tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang bahaya yang ada di dunia maya.
Baca Juga: Di Usia Berapa Anak Boleh Diperkenalkan Makanan Pedas? Cek Disini Jawabannya!
Mereka mungkin tidak menyadari bahwa tidak semua orang yang mereka temui secara online memiliki niat baik.
Ini membuat mereka rentan terhadap manipulasi oleh predator.
3. Keterasingan Emosional
Anak-anak yang merasa terasing atau kurang perhatian dari orang tua atau lingkungan sosialnya lebih mudah menjadi target grooming.
Baca Juga: Obat Sakit Tenggorokan Paling Mujarab, Manfaatkan Buah Pear di Kulkas!
Pelaku sering kali memanfaatkan perasaan ini untuk membangun kepercayaan dan kedekatan sebelum melakukan eksploitasi.
4. Perubahan dalam Dinamika Sosial
Dengan adanya pandemi COVID-19, banyak interaksi sosial yang beralih ke platform digital.
Hal ini meningkatkan risiko grooming karena anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu online tanpa pengawasan yang memadai dari orang tua.
5. Dampak Psikologis Jangka Panjang