Di panggung ini pula ia bertemu dengan suami pertamanya, Husin Nagib. Kehidupan pribadinya tidak selalu mudah—ia kehilangan beberapa anaknya di usia dini—namun tetap bertahan menjalani karier seni yang panjang.
Julukan “Mak Wok” yang melekat padanya memiliki kisah tersendiri. Berawal dari panggilan sayang “Wuk” dari sang ayah, nama itu kemudian berkembang menjadi “Wolly” karena pelafalan seorang sutradara asing. Seiring waktu, panggilan “Mak Wok” justru lebih dikenal luas dibanding nama aslinya.
Memasuki era 1970-an, Sutinah menemukan puncak popularitasnya di genre komedi.
Perannya sebagai ibu mertua galak dalam film Benyamin Biang Kerok melambungkan namanya sebagai pelawak.
Baca Juga: Sosok Rasuna Said Sang Orator Wanita Tangguh Penentang Kolonialisme Belanda
Karakter Mak Wok—dengan celotehan khas dan logat Betawi—menjadi begitu ikonik. Ia kerap dipasangkan dengan Hamid Arief sebagai pasangan suami-istri di layar, serta menjadi “ibu cerewet” bagi karakter-karakter yang diperankan Benyamin.
Popularitasnya terus berlanjut hingga era film-film Warkop DKI. Meski sering tampil singkat, kehadirannya selalu meninggalkan kesan kuat.
Di televisi, ia juga tampil memikat dalam serial Rumah Masa Depan, beradu akting dengan putrinya, Aminah Cendrakasih.
Wolly Sutinah wafat pada 14 September 1987 dalam usia 72 tahun akibat serangan jantung. Hingga akhir hayatnya, ia tetap aktif berkarya. Film terakhirnya, Lupus: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak, dirilis tak lama setelah kepergiannya.
Warisan Sutinah adalah bukti bahwa peran kecil bukan berarti kecil arti. Dengan konsistensi, disiplin, dan bakat alami, ia menjelma menjadi salah satu sosok ‘emak-emak’ yang tak tergantikan dalam sejarah perfilman Indonesia.***