Mengenal Kuluk Beselang Mertuo dari Jambi, Penutup Kepala Wanita Simbol Keanggunan dan Ketaatan Beragama

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 28 April 2026 | 11:36 WIB
Kuluk Beselang Mertuo khas Jambi (sitimang)
Kuluk Beselang Mertuo khas Jambi (sitimang)

KLIK SAJA - Di berbagai wilayah di Provinsi Jambi—seperti Kabupaten Bungo, Kerinci, Tebo, hingga Sarolangun—para perempuan memiliki tradisi khas dalam berbusana, salah satunya melalui penggunaan penutup kepala yang disebut kuluk atau tengkuluk.

Aksesori ini kerap dikenakan dalam upacara adat dan menjadi bagian penting dari identitas budaya setempat.

Kuluk merupakan penutup kepala yang dibentuk dari lilitan kain. Tradisi ini telah dikenal jauh sebelum masuknya Islam ke Nusantara, bahkan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-7.

Pada masa itu, perempuan Jambi mengenakan penutup kepala menyerupai turban yang dikenal sebagai kuluk beselang mertuo.

Seiring perkembangan budaya Melayu, setiap wilayah memiliki variasi tengkuluknya masing-masing. Tak heran jika Jambi memiliki ragam tengkuluk yang sangat kaya.

Suku Batin yang tersebar di Sarolangun, Merangin, dan Kerinci bahkan dikenal memiliki jenis tengkuluk terbanyak.

Bagi perempuan Jambi, kuluk bukan sekadar pelindung kepala dalam aktivitas sehari-hari, tetapi juga penanda status sosial dan simbol makna tertentu.

Setiap bentuk dan cara pemakaian memiliki filosofi tersendiri. Tercatat, setidaknya ada 98 jenis kuluk yang terdokumentasi di museum di Jambi—sebuah angka yang mencerminkan kekayaan tradisi ini.

Salah satu jenis yang populer adalah kuluk kembang duren, yang biasa dikenakan oleh gadis muda sebagai simbol kecantikan.

Ada pula kuluk pengajian, yang umumnya dipakai oleh perempuan dewasa saat menghadiri kegiatan keagamaan, seperti ke masjid atau ke pasar. Kuluk ini melambangkan ketaatan terhadap ajaran Islam.

Jenis lainnya, seperti kuluk kuncup melati, sering dikenakan oleh perempuan yang belum menikah saat menari atau menyambut tamu dalam upacara adat.

Sementara itu, kuluk ketelang petang atau kuluk ke umo lebih bersifat fungsional. Digunakan oleh perempuan di daerah pegunungan maupun pesisir, kuluk ini kerap dimanfaatkan untuk menyangkutkan keranjang rotan atau bambu saat membawa bekal ke sawah dan hasil panen saat kembali.

Kekayaan alam Jambi juga tercermin dalam kuluk daun manggis, yang biasa dikenakan oleh penari dari Muaro Bulian, Kabupaten Batanghari.

Nama ini merujuk pada daerah yang dahulu dikenal sebagai penghasil manggis, sekaligus mencerminkan nilai ketulusan dan tanggung jawab dalam mengayomi masyarakat sesuai adat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X