Disebutkan bahwa pada dekade tersebut, sejumlah pegawai Departemen Agama di Jakarta mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar di Pesantren Gontor, Jawa Timur, saat liburan sekolah.
Tujuannya sederhana namun penting: mengisi waktu libur dengan kegiatan positif, memperdalam pengetahuan agama, serta membentuk karakter agar terhindar dari perilaku negatif.
Seiring waktu, kegiatan serupa berkembang di berbagai daerah dengan durasi yang lebih fleksibel, mulai dari tiga hari, tujuh hari, hingga satu bulan penuh.
Penyelenggaranya pun semakin beragam, tidak hanya pondok pesantren, tetapi juga badan kemakmuran masjid, organisasi kemahasiswaan, OSIS, dan berbagai lembaga pendidikan lainnya. Meski belum terdapat catatan pasti mengenai awal mula penyelenggaraan pesantren kilat Ramadan secara luas, tradisi ini diakui berkembang pesat sejak tahun 1980-an.
Pengaruh pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia turut memperkuat eksistensi pesantren kilat hingga kini.
Tradisi ini terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, baik dari segi metode pembelajaran maupun kemasan kegiatan, tanpa meninggalkan esensi utamanya sebagai sarana pembinaan iman, ilmu, dan akhlak generasi muda.***