Penjelasan Ilmiah Kenapa Sendi Kita Bisa Berbunyi ‘Kretek-Kretek’: Terapi Sehat Atau Berbahaya?

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 20 Mei 2025 | 22:08 WIB
ilustrasi kretek kretek pada tulang belakang (pixabay)
ilustrasi kretek kretek pada tulang belakang (pixabay)

KLIK SAJA - Pernahkah Anda mendengar suara ‘kretek-kretek’ saat menggerakkan leher, punggung, atau buku jari?

Suara-suara ini sering muncul secara tiba-tiba dan terasa melegakan bagi sebagian orang.

Bahkan, tak sedikit praktik terapi yang kini memanfaatkan bunyi-bunyian sendi ini sebagai bagian dari metode pengobatan alternatif, seperti chiropractic atau yang sering dikenal dengan istilah “pijat kretek”.

Chiropractic adalah teknik terapi manual yang berfokus pada manipulasi tulang belakang dan sendi untuk meredakan nyeri, meningkatkan mobilitas, dan memperbaiki postur tubuh.

Praktisi chiropractic meyakini bahwa tulang belakang yang tidak selaras bisa memengaruhi sistem saraf dan kesehatan secara keseluruhan.

Meski begitu, secara ilmiah, bunyi ‘kretek-kretek’ yang dihasilkan dari terapi ini sebenarnya merupakan bentuk relaksasi sendi, bukan “meluruskan” tulang seperti yang sering diasumsikan masyarakat.

Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Sendi Berbunyi?

Secara ilmiah, sendi kita dikelilingi oleh cairan sinovial, yang berfungsi sebagai pelumas dan bantalan antar tulang.

Cairan ini mengandung gas seperti oksigen, nitrogen, dan karbon dioksida.

Ketika sendi diregangkan, kapsul sendi membesar dan tekanan di dalamnya menurun, sehingga gas-gas di dalam cairan sinovial cepat keluar dan membentuk gelembung.

 Proses inilah yang menimbulkan bunyi “pop” atau “crack”.

Selain gas, pergerakan tendon dan ligamen juga bisa menghasilkan suara. Saat sendi bergerak, tendon bisa berpindah posisi sejenak, lalu kembali ke tempat asalnya, menghasilkan bunyi ‘snap’.

Ligamen yang meregang dan menegang juga dapat menciptakan suara ‘crack’, terutama pada lutut dan pergelangan kaki.

Pada sendi yang mengalami artritis (radang sendi), suara bisa muncul akibat permukaan tulang yang kasar karena kehilangan lapisan tulang rawan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X