Tradisi Weh Buweh Ramadan di Demak, Ajarkan Anak Jadi Dermawan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 22 Maret 2025 | 11:40 WIB
Anak-anak di Kampung Domenggalan DEmak suka cita dalam tradisi Weh Buweh (pemkab Demak)
Anak-anak di Kampung Domenggalan DEmak suka cita dalam tradisi Weh Buweh (pemkab Demak)

KLIK SAJA - Di tengah gemerlap Ramadan yang penuh berkah, Kampung Domenggalan, Demak, yang terletak tak jauh dari Masjid Agung Demak, menyimpan sebuah tradisi unik yang sarat makna.

Setiap malam selikuran, atau malam ke-21 Ramadan, kampung ini berubah menjadi pusat keramaian yang penuh keceriaan.

Tradisi tersebut dikenal dengan nama Weh Buweh, sebuah ritual di mana anak-anak saling bertukar snack, jajanan, hingga mainan.

Bukan sekadar aktivitas seru, Weh Buweh ternyata memiliki filosofi mendalam: mengajarkan anak-anak untuk menjadi dermawan.

Pasar Dadakan Penuh Kebersamaan

Saat malam selikuran tiba, Kampung Domenggalan seketika berubah menjadi pasar dadakan yang diramaikan anak-anak.

Namun, pasar ini bukan untuk jual-beli, melainkan untuk saling berbagi. Anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah dengan membawa nampan berisi makanan, siap menukar jajanan yang mereka bawa dengan apa pun yang mereka inginkan.

Beberapa rumah bahkan menyiapkan balon dan mainan sebagai daya tarik bagi anak-anak. Suasana riuh rendah pun tak terelakkan, dipenuhi celoteh riang dan tawa ceria.

Tak hanya anak-anak, para orang tua juga turut serta dalam tradisi ini. Mereka menemani si kecil berkeliling atau bahkan ikut bertukar makanan dengan warga lainnya.

Semua dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kebahagiaan, menciptakan atmosfer kebersamaan yang kental.

Filosofi di Balik Weh Buweh

Menurut tokoh masyarakat setempat, tradisi Weh Buweh bukan sekadar aktivitas seru untuk mengisi malam Ramadan. Lebih dari itu, tradisi ini memiliki filosofi mendalam: mengajarkan anak-anak untuk tidak pelit dan menjadi dermawan.

Di sini, tidak ada aturan ketat tentang nilai barang yang ditukar. Sebungkus snack murah bisa ditukar dengan es krim yang lebih mahal, dan mereka yang tidak membawa apa pun tetap diperbolehkan mengambil dari lapak warga.

Hal ini menunjukkan bahwa tradisi Weh Buweh mengedepankan semangat berbagi tanpa pamrih.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Pemkab Demak

Tags

Rekomendasi

Terkini

X