Hubungan Antara Marah dan Tekanan Darah: Apa yang Perlu Kita Ketahui?

photo author
- Jumat, 20 Juni 2025 | 06:37 WIB
Hubungan Antara Marah dan Tekanan Darah: Apa yang Perlu Kita Ketahui? (Dibuat oleh Vicky Hayden Alzaini dengan menggunakan Meta AI)
Hubungan Antara Marah dan Tekanan Darah: Apa yang Perlu Kita Ketahui? (Dibuat oleh Vicky Hayden Alzaini dengan menggunakan Meta AI)

Semua perubahan fisiologis ini adalah respons alami tubuh terhadap ancaman atau situasi yang dianggap mengganggu.

Namun, jika respons ini terjadi terlalu sering atau berlangsung dalam waktu yang lama, dampaknya bisa merugikan kesehatan kita, terutama kesehatan jantung dan pembuluh darah.

2. Hubungan Jangka Pendek Antara Marah dan Peningkatan Tekanan Darah

Efek langsung dari kemarahan pada tekanan darah adalah peningkatan yang bersifat sementara.

Saat kamu sedang marah, tekanan darah kamu bisa naik secara signifikan dalam waktu singkat.

Namun, pada orang yang sehat, tekanan darah biasanya akan kembali normal setelah emosi mereda.

Peningkatan tekanan darah sesaat akibat marah sesekali umumnya tidak menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

Tubuh kita dirancang untuk mengatasi fluktuasi tekanan darah seperti ini.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa pada orang yang sudah memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti hipertensi yang tidak terkontrol atau penyakit jantung, lonjakan tekanan darah akibat marah bisa menjadi lebih berisiko.

Oleh karena itu, penting bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tersebut untuk lebih berhati-hati dalam mengelola emosi marahnya.

3. Dampak Jangka Panjang dari Kemarahan Kronis Terhadap Tekanan Darah

Masalah yang lebih serius muncul ketika kemarahan menjadi kebiasaan atau berlangsung dalam jangka waktu yang lama (kronis).

Kemarahan kronis dapat menyebabkan stres yang berkepanjangan pada sistem kardiovaskular.

Pelepasan hormon stres yang berulang kali dan peningkatan tekanan darah yang sering terjadi dapat merusak dinding pembuluh darah seiring waktu.

Kerusakan ini dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih kaku dan kurang elastis, yang merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya hipertensi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Vicky Hayden Alzaini

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X