Kekakuan ini dapat dengan cepat menyebabkan kelelahan, pikirkan matang-matang ketika membuat resolusi, jangan hanya angan-angan.
- Tidak Jelas atau Tidak Realistis.
"Saya ingin menjadi lebih sehat" adalah resolusi yang umum, tetapi apa artinya dalam praktik?
Tanpa langkah-langkah yang spesifik dan dapat ditindaklanjuti, hampir mustahil untuk menindaklanjutinya.
Sasaran yang tidak realistis sering kali menjadi bumerang, membuat kita merasa lebih buruk tentang diri kita sendiri.
Baca Juga: Awas! Inilah 5 Masalah Kesehatan Jika Kita Selalu Berpikir Negatif
Sasaran lebih mungkin berhasil jika spesifik dan terukur. Misalnya, "Jalan kaki selama 20 menit tiga kali seminggu" jauh lebih mudah dicapai daripada "Menjadi lebih sehat."
- Resolusi Berakar pada Tekanan Eksternal, Bukan Keinginan Sejati.
Banyak resolusi yang dipengaruhi oleh ekspektasi atau tren masyarakat.
Semisal kita mempunyai resolusi ingin mempunyai satu merek smartphone yang harganya sangat mahal, karena sedang trending, namun kita tidak mengukur kemampuan kita dalam menabung.
Bila tujuan kita berasal dari sumber eksternal, motivasi intrinsik kita untuk bertahan pada tujuan tersebut akan berkurang.
Tujuan yang selaras dengan nilai-nilai inti anda cenderung lebih berhasil.
- Kurangnya Dukungan Struktural.
Resolusi saja tidak cukup; dibutuhkan sebuah sistem.
Misalnya, mengatakan "Saya ingin makan lebih sehat" tanpa rencana yang jelas seperti menyimpan bahan makanan bergizi dan menyediakan waktu untuk memasak membuat tujuan sulit dicapai.
Kebiasaan memerlukan isyarat terstruktur dan perubahan lingkungan jika kita ingin menjadikannya otomatis.
Sebelum membuat resolusi, lihat dulu sistem di sekeliling kita, apakah bisa mensupportnya.***