KLIK SAJA - Rasa ingin tahu sering kali dianggap sebagai pemicu terobosan ilmiah dan mahakarya seni, karena memunculkan ide untuk menciptakan sesuatu
Namun salah satu manfaatnya yang paling kuat adalah bagaimana kita bisa terhubung dengan orang lain, lewat rasa ingin tahu.
Intinya bagaimana kita ingin “kepo” tentang orang lain, baik itu pikiran, emosi, bahkan keyakinan mereka, yang pada akhirnya dapat bermanfaat bagi hubungan, pertumbuhan pribadi, dan bahkan kebahagiaan kita, contohnya dalam hubungan pernikahan.
Baca Juga: 8 Cara Mendeteksi Permintaan Maaf Yang Penuh Kepalsuan
Rasa ingin tahu seperti ini tidak hanya sopan atau menyenangkan; tetapi juga transformatif. Berdasarkan penelitian, rasa ingin tahu tentang orang lain dapat membuat kita lebih disukai, persuasif, dan empati , sekaligus membuka pintu menuju interaksi yang lebih kaya dan lebih bermakna.
Dilansir dari Psychology Today berikut 4 manfaat jika kita memiliki rasa ingin tahu yang positif
- Membuat Kita Disukai Banyak Orang
Siapa bilang “kepo” itu selamanya negatif, selama niat kita tulus ingin mengetahui siapa saja di lingkungan kita, justru hal tersebut membuat kita disenangi banyak orang.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology melakukan penelitian tentang orang yang suka bertanya.
Hasilnya orang yang kerap ditanyai, justru merasa dihargai dan dipahami, namun harus mendapatkan ‘feedback’ mendengarkan secara aktif dan peduli terhadap apa yang dikatakan orang lain.
Hal ini menciptakan lingkaran umpan balik positif dimana semakin banyak kita bertanya, semakin mereka menyukai kita, dan semakin mereka bersedia berbagi.
- Rasa ingin tahu itu menular
Saat kita menunjukkan rasa ingin tahu tentang pengalaman atau keyakinan orang lain, mereka cenderung ingin tahu tentang pengalaman atau keyakinan kita.
Baca Juga: 3 Mitos Tentang Orang Narsis Yang Ternyata Salah Kaprah
Dinamika ini dapat berdampak besar pada seberapa persuasif dan berpengaruhnya kita.
Sebuah studi oleh para peneliti di Harvard Business School menemukan bahwa ketika orang merasa didengarkan dan dipahami, mereka menjadi lebih terbuka untuk mempertimbangkan berbagai perspektif.