Meski karakternya digambarkan wafat di awal film, Sri Paus (Bruno Novelli), ternyata mempunyai peran penting untuk menentukan alur Conclave ini.
Langkah yang dilakukannya sebelum wafat antara lain menolak pengunduran diri Kardinal Lawrence, dan juga mengundang Kardinal Benitez dari Kabul, Afganistan secara khusus untuk mengikuti Conclave.
Justru di titik inilah nasib Gereja Katolik dipertaruhkan. Sebab Sri Paus yang dikenal sebagai sosok liberal dan modern, mendapat perlawanan dari pihak konservatif yang ingin merubah haluan kebijakan Takhta Vatikan.
Asap Hitam dan Asap Putih
Ternyata Conclave kali ini memerlukan beberapa hari untuk prosesnya, dan menurut Kardinal Lawrence, semakin lama proses pemilihan ini makin menunjukkan Gereja Katolik tidak sedang baik-baik saja.
Di sore hari jika hari Conclave belum menentukan pilihan Paus yang baru, maka kertas pemungutan suara dibakar dalam satu tungku di Kapel Sisitina yang asap hitamnya membubung ke angkasa sebagai tanda belum tercapainya kuorum.
Butuh minimal 2/3 suara bulat dari 108 Kardinal yang mengikuti Conclave untuk memilih Paus yang baru. Jadi ini menjadi cukup rumit dengan banyaknya kandidat kuat yang ada, bahkan Kardinal Lawrence pun merangsek masuk di antaranya.
Setelah melalui proses yang penuh intrik dan menegangkan, akhirnya "Habemus Papam" pun terucap. Asap di cerobong asap berubah warnanya menjadi putih dan "Kita memiliki Paus yang Baru".
Baca Juga: Review Film The Children's Train (2024), Masa Kecil Violinist Tenar di Napoli Paska Perang Dunia II
Kepastian adalah Musuh dari Kesatuan
Ada sebuah khotbah di awal Conclave yang disampaikan secara tegas oleh Kardinal Lawrence. Menjadi salah satu quote terbaik di film ini, "Certainty is the enemy of unity", Kepastian adalah musuh dari kesatuan.
Sosok Sri Paus yang baru tidak bisa hanya dilihat dari kekurangannya saja, karena sebagai manusia secara natural ada hal negatif mengikutinya.
Begitu pula dengan keyakinan atau agama, tidak bisa manusia memutuskan sebuah kepastian di dalamnya. Ada ruang keragu-raguan tentang apa yang tidak bisa dijelaskan dan itu biarlah menjadi sebuah misteri. Agama mengambil alih peran sebagai petunjuk arahnya.
Artikel Terkait
Review Film The Silent Hour (2024), Suguhan Thriller-Action Apik Tak Hanya Bagi Penyandang Tuna Rungu
Review Film Aftermath (2024), Penyanderaan dengan Maksud yang Bias di Jembatan Tobin
Review Film The Children's Train (2024), Masa Kecil Violinist Tenar di Napoli Paska Perang Dunia II
Review Film Venom : The Last Dance (2024) : Sebuah Perpisahan Dramatis Eddie Brook dan Symbiote Baik Hati
Review Film Weekend In Taipei (2024), Kolaborasi Menyenangkan Luke Evans dan Sung Kang yang Penuh dengan Sponsor
Review Film Heretic (2024), Psychological Horror yang Memikat dan Manipulatif