KLIK SAJA - Mendengar Napoli atau Naples, kini kita langsung membayangkan bagaimana indahnya pemandangan kota terbesar ketiga Italia di bawah gunung Vesuvius lengkap dengan pesisir pantai bebatuan Monache.
Namun bagaimana kehidupan di kota selatan Italia ini di tahun 1940-an? Sutradara Cristina Comencini bersama kantor produksi Palomar, mampu menjawab dengan visual masyarakat yang konkret dalam film The Children's Train atau dalam Bahasa Italia-nya, Il Treno Dei Bambini.
Film ini merupakan sebuah adaptasi langsung dari novel dengan judul sama The Children's Train terbitan 24 September 2019 karya Viola Ardone.
Ditayangkan melalui OTT Netflix, film berdurasi 1 jam 46 menit ini bisa menjadi pilihan untuk ditonton bareng dengan keluarga di akhir pekan, sebab banyak pesan-pesan moral di dalamnya.
IMDb memberikan rating 7.3/10 hingga seminggu sejak awal penayangannya pada 4 Desember 2024, dan mungkin bisa sedikit menurun pada akhirnya karena banyaknya lubang yang tercipta karena kombinasi momen flashbacknya.
Baca Juga: Review Film The Count of Monte Cristo (2024), Sebuah Film Presisi dari Karya Alexandre Dumas
Amerigo Speranza, Anak dengan Sejuta Talenta
Dikisahkan seorang anak bernama Amerigo Sprenaza (diperankan oleh Christian Cervone) dari keluarga miskin di Italia harus hidup berdua dengan ibunya Antonietta (Serena Rossi) karena ayahnya pergi ke Amerika untuk mencari uang.
Mungkin untuk itulah nama Amerigo dipilih penulis Viola Ardone untuk menjelaskan bahwa sang ayah punya cita-cita yang tinggi dalam hidupnya.
Kehidupan di Napoli sangat sulit paska Perang Dunia ke II, di mana banyak wanita terpaksa tinggal di kota tersebut bersama anak-anaknya, sementara suami mereka harus "melancong" untuk kebutuhan militer maupun mencari uang.
Pilihan datang bagi Antonoetta dan Amerigo, saat pergerakan Treni della felicità atau kereta kebahagiaan ditawarkan bagi anak-anak di Napoli kala itu.
Pergerakan ini merupakan sebuah kejadian aktual di Italia pada masa itu yang dicetuskan oleh Teresa Noce, di mana akan-anak keluarga miskin akan ditampung oleh keluarga berkecukupan dari angguta Partai Komunis di Italia Utara.
Baca Juga: Review Film Aftermath (2024), Penyanderaan dengan Maksud yang Bias di Jembatan Tobin
Artikel Terkait
Review Film Netflix Sosok Ketiga, Dendam Istri Pertama yang Dipoligami
Review Film The Count of Monte Cristo (2024), Sebuah Film Presisi dari Karya Alexandre Dumas
Review Film The Silent Hour (2024), Suguhan Thriller-Action Apik Tak Hanya Bagi Penyandang Tuna Rungu
Review Film Mission Imposible The Final Reckoning: Melanjutkan Kisah Ethan Hunt
Review Film Aftermath (2024), Penyanderaan dengan Maksud yang Bias di Jembatan Tobin