Di sisi penawaran, para investor kini mengabaikan potensi gangguan yang berasal dari serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak Ilsky dan Slavyansk di Rusia pada akhir pekan.
Dari sisi permintaan, data terbaru menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS turun 6,37 juta barel pada pekan lalu, melampaui ekspektasi kenaikan 1,6 juta barel.
Sebelumnya, harga minyak mentah global meningkat akhir-akhir ini karena kekhawatiran mengenai risiko lebih lanjut di Timur Tengah.
Setelah harga minyak mencapai titik terendah pada Juni 2023 karena berkurangnya kelebihan pasokan.
Baca Juga: 1,2 Ton Pasir Timah Diamankan! Usai Polda Menangkap Pelaku Penampung Pasir Timah di Tempilang
Tentunya harga telah meningkat sekitar 20 persen sepanjang April 2024 yang terjadi rata-rata terjadi kenaikan pada 1 hingga 22 April.
Sejak Juni 2023, minyak mentah Brent telah meningkat 18,4 persen dari USD75,00 menjadi USD88,80 per barel.
Sementara minyak mentah WTI telah meningkat 20,6 persen dari USD70,30 menjadi USD84,80 per barel pada periode yang sama.
Baca Juga: Naik 23 Persen, Saham Surya Pertiwi (SPTO) Mencatat Laba Bersih Senilai Rp254 Miliar di 2023
Kenaikan minyak Brent sempat menunjukkan kenaikan di level USD89 per barel dan minyak WTI naik di kisaran USD87 per barel.
Kondisi ini sempat memperkuat ekspektasi akan melanjutkan tren bullish di sesi mendatang.
Badan Informasi Energi AS (EIA) juga meningkatkan perkiraan rata-rata harga spot Brent untuk tahun ini dan tahun depan berdasarkan short term energy outlook (STEO) pada 11 April lalu.
Baca Juga: Alami Unusual Market Activity, Kedua Saham Ini Menjadi Pantauan BEI
EIA memperkirakan harga spot Brent rata-rata USD89,97 per barel pada kuartal pertama 2024, dan USD91,34 per barel.