Raja Lokongbanua II yang memerintah Kerajaan Siau pada 1510-1549 ternyata pernah menjadi bagian dari Kesultanan Ternate.
Hal ini menjadi sebabnya muncul mobilitas penduduk antarkedua daerah termasuk berkembangnya pala di Siau saat penduduk setempat membawa bibit dari Ternate.
Kandungan minyak pada pala Siau ternyata mencapai 80-100 persen dan hal ini menjadi pembeda dengan produk sejenis dari daerah lain ketika kadar minyaknya tak lebih dari 50-70 persen.
Bahkan kandungan asiri pada pala Siau mencapai 2,39 persen di mana pada bagian fuli, kandungan asirinya bisa mencapai 17,27 persen.
Kemudian keunggulan lainnya adalah aroma dan biji pala yang hampir bulat sempurna tanpa kerut.
Aroma pala Siau berciri khas disebabkan tingginya zat miristisin dibandingkan dengan produk sejenis dari daerah lain.
Zat miristisin biji pala Siau bahkan mencapai 13,19 persen, sedangkan pada pala Banda misalnya hanya sebesar 11 persen saja.
Kehadiran Karangetang sebagai gunung api aktif bisa menjadi faktor utama perbedaan itu.
Beragam material vulkanik mengandung fosfor, kalsium, kalium, dan magnesium disemburkan dari gunung setinggi 1.320 meter di atas permukaan laut ke bumi Siau.
Hampir nyaris setiap tahun gunung ini memuntahkan material vulkaniknya, yang merupakan pupuk alami terbaik.
Kondisi tadi tentu saja membuat struktur lahan perkebunan di Siau menjadi jauh lebih subur dan sangat cocok bagi tanaman keras seperti pala.
Adapula terdapat beberapa varietas pala ditanam di Pulau Siau seperti pala tobelo, banda, pala bulat telur, pala pingpong, dan pala hijau.
Dikarenakan hal ini, pala asal Siau menjadi satu-satunya komoditas pala di Indonesia yang telah mendapatkan sertifikat indikasi geografis (SIG).
Hal ini semacam penanda dari daerah asal suatu barang karena faktor lingkungan geografis memberikan ciri dan kualitas tertentu kepada barang yang dihasilkan.