KLIK SAJA - Kain Sesek telah digunakan sejak ratusan tahun lalu oleh suku Sasak.
Kain Sesek merupakan sejenis songket seperti halnya yang terdapat di Sumatra.
Biasanya digunakan sebagai baju adat atau hiasan seperti selendang dan penutup kepala.
Sesek dalam bahasa Sasak berarti menenun karena dilakukan dengan menjalin benang satu demi satu (sak sak).
Benang yang sudah dijalin kemudian dipadatkan hingga berbentuk layaknya selembar kain dengan cara ditenun memakai alat tenun berbahan kayu yang sepintas seperti dipukul-pukul dan menghasilkan suara khas "tak tak".
Baca Juga: Mengenal Batik Besurek Bengkulu, Warisan Keturunan Pengikut Pangeran Diponegoro
Nyaris hampir seluruh tahapan pembuatan kain Sesek masih menggunakan peralatan tradisional dan bahan baku yang digunakan sebagian besar masih alami.
Pembuatan kain Sesek dimulai dari tahapan tetompok atau pemintalan.
Benang yang terbuat dari kapas diproses dengan cara dipanjangkan.
Kemudian, proses tetaneq atau menggulung benang, setelah benang terbentuk, dimulailah proses tetisiq atau menenun menggunakan alat tenun kayu diteruskan dengan tepinaq atau membentuk motif dengan benang nilon.
Cara menenunnya pun sangat unik, alat tenun yang berukuran 1 meter x 1 meter ditopangkan atau dipangku oleh si perajin beralaskan kedua kakinya yang diselonjorkan di lantai.
Kegiatan menenun ini biasanya dilakukan di teras rumah para perajin sejak pagi hingga petang. Selembar kain Sesek yang dihasilkan rata-rata berukuran panjang 1,5 meter dan lebar 1 meter.
Proses pembuatan selembar kain Sesek ini memakan waktu antara dua minggu hingga 1,5 bulan.