Namun peran mereka tidak berhenti di sana.
Perempuan juga menjadi tulang punggung produktivitas keluarga. Mereka bekerja di kebun, mencari hasil dari danau, mengelola dusun sagu, hingga menjalankan berbagai aktivitas ekonomi yang menopang kehidupan rumah tangga.
Di ruang publik, perempuan Sentani juga mengambil peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, ketika seorang perempuan meninggal dunia, masyarakat tidak hanya kehilangan seorang ibu atau istri. Mereka kehilangan pengasuh keluarga, pencari nafkah, pendidik generasi, sekaligus pendukung utama kehidupan sosial.
Tak heran jika sosok perempuan mendapat tempat yang sangat mulia dalam lantunan Helaehili.
Ratapan yang Menjaga Ingatan
Salah satu contoh Helaehili yang dilantunkan untuk mengenang seorang ibu berbunyi:
Ra igwa yono omi menake wa foijaele miyae, nundaeya
(Mama ku, perempuan baik dari Kampung Egwa, telah tiada)
We Ebaite yonu tehili kandeya, Ana kanendeya
(Kami anak-anak keturunan Ebaite bersedih, mama, bersedih)
Re raei yamno maengge menake wa moijaele, iyae howalaeya
(Mama ku, perempuan baik dari Kampung Raei, telah tiada)
Wa Hayaere yoha fele-fele kandeya, Ana kandeya
(Kami anak-anak keturunan Hayae bersedih, mama, bersedih)