Kemampuan sapi dalam menarik beban berat menjadi alasan utama mengapa cikar tetap digunakan di sejumlah daerah pedesaan.
Terlebih lagi, kendaraan ini mampu melintasi jalan berbatu, tanjakan, maupun jalur sempit yang sulit dijangkau truk atau kendaraan bermotor lainnya.
Dalam kehidupan petani tradisional, sapi yang digunakan untuk menarik cikar juga memiliki fungsi ganda.
Saat musim hujan dan masa tanam tiba, sapi-sapi tersebut dimanfaatkan untuk membajak sawah.
Ketika musim kemarau datang dan aktivitas membajak berkurang, sapi yang sama digunakan untuk menarik cikar sebagai sumber penghasilan tambahan bagi para petani.
Meski kini keberadaannya semakin langka, cikar tetap menjadi bagian penting dari sejarah transportasi Indonesia.
Kendaraan sederhana ini tidak hanya mencerminkan kearifan lokal masyarakat pedesaan, tetapi juga menjadi saksi perjalanan panjang mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat Nusantara sebelum hadirnya kendaraan modern.***
Jika artikel ini bermanfaat bagi anda, silahkan para pembaca kliksaja.id dapat mengapreasiasi kami dengan meng-klik fitur Traktir Kopi yang ada di bawah artikel ini.
Kontribusi anda sangat berarti bagi portal web kami agar berkembang menjadi media jurnalistik independen serta menjaga pemberitaan yang akurat, kredibel dan berkelanjutan.